Breaking News

Terdampar di Batam, PMI Sahirin Bersama Istri Stroke Berat dan Anak Terancam Tak Bisa Pulang ke Lombok, SBMI Batam Turun Tangan,

BATAM, 17 Agustus 2026 — Seorang pekerja migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Lombok Timur, Sahirin, bersama istri dan seorang anaknya, kini terdampar di Batam setelah rencana kepulangan mereka ke Lombok terkendala kondisi kesehatan sang istri yang mengalami stroke berat.

Berdasarkan identitas dalam KTP dan Kartu Keluarga, Sahirin merupakan warga Tundak Daye, Desa Batu Putik, Kecamatan Keruak, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Sahirin pulang dari Malaysia bersama istrinya, Siti Syahrah, dan seorang anak mereka, Adelia Futri.

Ketiganya sebelumnya berusaha kembali ke Indonesia melalui jalur laut dari Malaysia menuju Batam dengan menggunakan jasa tekong. Setelah tiba di Batam, Sahirin kemudian berupaya melanjutkan perjalanan menuju Lombok melalui penerbangan.

Namun, rencana tersebut terhenti ketika kondisi Siti Syahrah yang mengalami stroke berat membuatnya tidak diperbolehkan naik pesawat. Selain kondisi kesehatannya yang cukup parah, keluarga juga tidak mengantongi surat keterangan dokter yang diperlukan untuk perjalanan udara.

Karena belum dapat melanjutkan penerbangan, Sahirin bersama istri dan anaknya kemudian menginap di Hotel Grand Cendana Inn Batam, yang lokasinya tidak jauh dari Bandara Hang Nadim. Mereka harus menyewa kamar dari malam ke malam sambil menunggu kepastian mengenai proses kepulangan.

Ketua SBMI Batam Datangi Keluarga PMI

Melihat kondisi tersebut, Muhammad Nasir, Ketua SBMI Batam, mengunjungi langsung Sahirin bersama istri dan anaknya di tempat mereka menginap.

Muhammad Nasir kemudian membawa Siti Syahrah ke RSUD Embung Fatimah Batam untuk mendapatkan pemeriksaan medis.

“Saya bantu mengurus pendaftaran dan urusan dengan dokter agar istrinya bisa mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis,” ujar Muhammad Nasir.

Kondisi Siti Syahrah diketahui cukup berat. Ia mengalami stroke sejak Januari 2026. Selama berada di Malaysia, pengobatan yang dijalani hanya melalui klinik dan tidak dilengkapi dokumen atau berkas medis yang memadai.

Bahkan, selama kurang lebih tiga bulan terakhir, Siti Syahrah yang mengalami stroke berat lebih banyak dirawat di rumah karena kondisinya yang semakin parah.

Riwayat Keberangkatan Berbeda

Menurut informasi yang diperoleh, Siti Syahrah sebelumnya berangkat ke Malaysia melalui jalur resmi menggunakan perusahaan penempatan. Namun setelah berada di Malaysia, status keberadaannya kemudian menjadi tidak berdokumen karena persoalan visa.

Sementara itu, Sahirin disebut masuk ke Malaysia melalui jalur tidak resmi.

Selama berada di Malaysia, Sahirin dan Siti Syahrah kemudian memiliki seorang anak, Adelia Futri.

Dalam kondisi istrinya yang sakit berat, Sahirin berupaya membawa keluarganya kembali ke Indonesia. Mereka memilih jalur laut menuju Batam dengan menggunakan jasa tekong karena ingin segera kembali ke kampung halaman di Lombok Timur.

SBMI Batam Koordinasi dengan SBMI Lombok Timur

Setelah mengetahui persoalan yang dialami keluarga tersebut, Muhammad Nasir selaku Ketua SBMI Batam kemudian menghubungi Moh. Khairil Akbar selaku Ketua SBMI Lombok Timur.

Koordinasi dilakukan untuk membahas langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam membantu tiga orang PMI, yakni Sahirin, Siti Syahrah, dan anak mereka, yang saat ini masih tertahan di Batam.

Koordinasi tersebut terutama berkaitan dengan kondisi kesehatan Siti Syahrah, kebutuhan pemeriksaan dan dokumen medis, serta upaya mencari solusi agar keluarga tersebut dapat melanjutkan perjalanan dan kembali ke Lombok Timur dengan aman.

SBMI berharap pemerintah dan instansi terkait dapat memberikan perhatian terhadap kondisi keluarga ini, khususnya karena salah satu anggota keluarga mengalami stroke berat dan membutuhkan penanganan medis serta pendampingan dalam proses kepulangan.

Saat ini, keluarga Sahirin masih berada di Batam sambil menunggu kepastian mengenai proses keberangkatan dan pemulangan mereka ke Lombok Timur.

0 Comments

© Copyright 2023 - Suara Konsumen Indonesia