Breaking News

ISTRI PMI ASAL SIKUR MULAI MEMBAIK, SBMI DESAK PEMERINTAH SEGERA BANTU PEMULANGAN DARI BATAM

BATAM/LOMBOK TIMUR — Kondisi istri PMI asal Kecamatan Sikur, Lombok Timur, yang beberapa minggu terakhir masih menjalani perawatan di Batam, kini mulai menunjukkan perkembangan dan kondisi kesehatannya berangsur membaik.

Namun, persoalan keluarga tersebut belum selesai. Mereka masih menghadapi keterbatasan biaya hidup selama berada di Batam dan membutuhkan bantuan untuk proses pemulangan ke Lombok.

Ketua SBMI Batam, Muhammad Nasir, mengatakan bahwa keluarga PMI tersebut sebelumnya telah membeli tiket penerbangan untuk tiga orang, yakni PMI yang bersangkutan, istrinya dan anaknya, dengan tujuan Batam–Lombok.

Namun karena kondisi kesehatan sang istri pada saat itu tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan udara, mereka tidak diperbolehkan terbang. Akibatnya, tiket yang telah dibeli menjadi batal, sementara biaya yang dimiliki keluarga semakin menipis karena telah digunakan untuk kebutuhan selama berada di Batam.

“Sekarang kondisi istrinya sudah mulai membaik. Tetapi keluarga ini sudah beberapa minggu berada di Batam dan kondisi ekonominya sangat terbatas. Bahkan untuk kebutuhan makan sehari-hari saja mereka sudah kesulitan,” kata Muhammad Nasir.

Menurut Nasir, kondisi tersebut telah dibenarkan dan menjadi perhatian SBMI Batam. Karena itu, pihaknya terus melakukan pendampingan serta berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait agar keluarga tersebut mendapatkan bantuan dan kepastian mengenai proses kepulangan.

Sementara itu, Ketua SBMI Lombok Timur, Moh. Khairil Akbar, meminta pemerintah tidak membiarkan persoalan tersebut berlarut-larut.

Khairil yang juga masih menempuh pendidikan Ilmu Hukum di Universitas Gunung Rinjani (UGR) Lombok Timur, menegaskan bahwa PMI dan keluarganya yang sedang mengalami persoalan membutuhkan kehadiran negara secara nyata.

“Kami meminta pemerintah segera hadir dan memberikan solusi konkret. Jangan sampai PMI dan keluarganya yang sedang mengalami musibah justru terlantar di daerah orang,” tegas Khairil.

DINAS SOSIAL DIMINTA PERHATIKAN KONDISI ANAK

Selain persoalan kesehatan dan pemulangan orang tua, SBMI juga meminta Dinas Sosial Provinsi NTB dan Dinas Sosial Kabupaten Lombok Timur untuk memberikan perhatian terhadap kondisi anak PMI yang masih berusia sekitar tiga tahun.

Anak seusia tersebut semestinya berada dalam suasana yang penuh keceriaan, bermain, mendapatkan kasih sayang, dan menikmati masa tumbuh kembangnya. Namun situasi dan keadaan yang dialami kedua orang tuanya membuat anak tersebut ikut merasakan beratnya kehidupan yang sedang mereka hadapi di Batam.

“Anak yang masih berusia tiga tahun tidak seharusnya ikut menanggung dampak dari persoalan yang dialami orang tuanya. Di usia tersebut seharusnya dia bisa bermain, belajar, tertawa dan menikmati masa kecilnya dengan bahagia. Karena itu, kami berharap Dinas Sosial juga melihat persoalan ini dari sisi perlindungan dan kebutuhan anak,” ujar Khairil.

Menurutnya, persoalan tersebut tidak boleh hanya dipandang sebagai masalah kepulangan seorang PMI. Ada seorang istri yang sedang sakit dan seorang anak kecil yang juga membutuhkan perlindungan, perhatian serta kepastian untuk dapat kembali ke lingkungan keluarganya di Lombok.

SBMI meminta pemerintah terkait melakukan asesmen terhadap kebutuhan keluarga tersebut, termasuk kebutuhan dasar anak selama masih berada di Batam hingga proses pemulangan dapat dilakukan.

PEMERINTAH DIMINTA BERKOORDINASI

SBMI Lombok Timur meminta BP3MI Kepulauan Riau, BP3MI NTB, Disnakertrans NTB, Disnaker Kabupaten Lombok Timur, Dinas Sosial Provinsi NTB, Dinas Sosial Kabupaten Lombok Timur, Baznas NTB, Baznas Lombok Timur, serta pihak terkait lainnya untuk segera berkoordinasi dan mengambil langkah bersama.

Menurut Khairil, bantuan yang dibutuhkan bukan hanya terkait proses pemulangan, tetapi juga kebutuhan keluarga selama masih berada di Batam, termasuk memastikan perawatan sang istri berjalan dengan baik hingga secara medis dinyatakan memungkinkan untuk melakukan perjalanan.

“Prioritas kita sekarang adalah kesehatan istrinya, kebutuhan dasar keluarga, termasuk kondisi anak yang masih sangat kecil, kemudian memastikan proses pemulangan mereka ke Lombok berjalan aman dan tidak kembali terkendala,” ujarnya.

SBMI Batam dan SBMI Lombok Timur akan terus berkoordinasi agar persoalan keluarga PMI tersebut dapat segera diselesaikan.

Muhammad Nasir berharap pemerintah melalui BP3MI Kepulauan Riau dan instansi terkait dapat segera berkomunikasi dengan pemerintah di NTB sehingga tidak terjadi saling menunggu dalam penanganan kasus tersebut.

“Kami tidak ingin keluarga ini terlalu lama berada dalam kondisi sulit di Batam. Kalau kondisi kesehatan istrinya sudah memungkinkan untuk melakukan perjalanan, maka proses pemulangan harus segera dipersiapkan,” kata Nasir.

Senada dengan itu, Khairil menegaskan bahwa persoalan ini harus menjadi perhatian bersama.

“PMI adalah warga negara yang juga memiliki hak mendapatkan perlindungan. Ketika mereka menghadapi persoalan, apalagi menyangkut kesehatan, keterbatasan ekonomi, dan ada anak kecil yang ikut terdampak, negara harus hadir memberikan jalan keluar,” tegasnya.

SBMI berharap seluruh pihak dapat bergerak cepat dan bersinergi sehingga keluarga PMI asal Sikur tersebut dapat segera kembali ke Lombok dalam keadaan aman, mendapatkan pendampingan, serta kembali berkumpul dengan keluarga di kampung halaman.

Jangan sampai seorang anak kecil harus terlalu lama merasakan pahitnya keadaan hanya karena persoalan yang dihadapi orang tuanya. Pemerintah harus hadir agar hak anak untuk tumbuh, bermain, belajar dan menikmati masa kecilnya tetap terlindungi.

0 Comments

© Copyright 2023 - Suara Konsumen Indonesia