Breaking News

Dari Santri, Pekerja Migran ke Pengawal Kebijakan, Usman: Pejabat Jangan Bersembunyi di Balik Jabatan

MATARAM, NTB 25 Agustus 2026 — Perjalanan Usman sebagai aktivis sosial, buruh migran dan pegiat pendidikan ternyata memiliki akar yang cukup panjang. Jauh sebelum dikenal dalam berbagai organisasi di tingkat lokal maupun nasional, keberanian Usman menyampaikan pendapat dan membangun gerakan organisasi telah tumbuh sejak dirinya masih duduk di bangku sekolah pondok pesantren.

Sejak menjadi santri, Usman sudah dikenal memiliki keberanian untuk menyampaikan pandangan terhadap berbagai persoalan yang dihadapi lingkungan sekitarnya. Semangat tersebut kemudian mendorongnya membentuk dan mengembangkan organisasi di luar lingkungan sekolah melalui wadah Anak Generasi (ANGKER 2000) dan terlibat karangtaruna di desa/

Bagi Usman, pengalaman berorganisasi sejak usia muda menjadi sekolah kehidupan yang membentuk keberaniannya dalam menyampaikan aspirasi, membangun solidaritas dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Dari lingkungan pesantren, perjalanan itu kemudian berkembang ke dunia organisasi kemasyarakatan, kepemudaan, mahasiswa, buruh migran hingga pendidikan.

Dari Santri Mulai Berani Bersuara

Keberanian Usman untuk bersuara tidak muncul secara tiba-tiba. Sejak berada di lingkungan pondok pesantren, ia mulai belajar melihat persoalan di sekelilingnya dan menyampaikan gagasan.

Di masa sekolah tersebut, Usman mulai memahami bahwa organisasi dapat menjadi sarana untuk menghimpun anak-anak muda, membangun kepedulian dan melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Semangat itu kemudian diwujudkan melalui pembentukan organisasi Anak Generasi (ANKER 2000) di luar lingkungan sekolah.

Organisasi tersebut menjadi salah satu bagian awal perjalanan Usman dalam mengenal dunia kepemudaan, pengorganisasian dan gerakan sosial.

Dari sanalah kemudian tumbuh prinsip yang terus dibawanya hingga sekarang: berani bersuara, berani berorganisasi dan berani memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Dari Anak Generasi hingga Organisasi Nasional

Seiring perjalanan waktu, keterlibatan Usman dalam organisasi semakin berkembang. Ia tidak hanya bergerak di lingkungan kepemudaan, tetapi kemudian terlibat dalam berbagai organisasi kemasyarakatan, organisasi mahasiswa, pendidikan dan gerakan buruh migran.

Dalam sejumlah organisasi, Usman juga dipercaya menjalankan peran sebagai pendidik dan pembina, termasuk dalam organisasi mahasiswa dan kepemudaan.

Peran tersebut membuat aktivitasnya tidak hanya berkaitan dengan advokasi, tetapi juga pembinaan generasi muda, penguatan kapasitas organisasi, pengembangan kepemimpinan dan mendorong anak-anak muda agar berani mengambil peran dalam persoalan sosial.

Keterlibatannya berkembang dari tingkat lokal hingga nasional, serta bersentuhan dengan berbagai jejaring dan kegiatan yang memiliki dimensi internasional.

Pernah Menjadi Pekerja Migran

Perjalanan hidup Usman kemudian membawanya menjadi pekerja migran Indonesia.

Ia pernah bekerja di Malaysia sebanyak tiga kali, serta pernah berada di Brunei Darussalam dan Singapura.

Pengalaman sebagai pekerja migran memberikan perspektif langsung mengenai kehidupan warga Indonesia yang bekerja di luar negeri.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu alasan Usman aktif memperjuangkan perlindungan buruh migran dan keluarganya.

Ia secara konsisten mengkritisi regulasi maupun kebijakan pemerintah yang menurutnya masih perlu diperbaiki agar perlindungan terhadap PMI lebih kuat.

Dari Buruh Migran ke Dunia Pendidikan

Setelah aktif dalam isu buruh migran, perhatian Usman juga semakin luas ke dunia pendidikan.

Ia ikut memperjuangkan nasib pendidik, khususnya guru PAUD, serta terlibat dalam organisasi pendidikan.

Menurutnya, persoalan pendidikan tidak hanya menyangkut anak didik, kurikulum dan sarana prasarana, tetapi juga menyangkut kesejahteraan dan penghargaan terhadap orang-orang yang setiap hari mendidik generasi bangsa.

Usman melihat guru PAUD sebagai bagian penting dari pembangunan sumber daya manusia karena pendidikan karakter dan kemampuan anak dimulai sejak usia dini.

Membina Mahasiswa dan Pemuda

Pengalaman panjang dalam organisasi membuat Usman juga dipercaya menjadi pembina di sejumlah organisasi mahasiswa dan kepemudaan.

Ia mendorong mahasiswa dan pemuda agar tidak takut menyampaikan kritik, tetapi tetap mengedepankan ilmu, etika dan tanggung jawab.

“Saya selalu menyampaikan kepada generasi muda, jangan takut bersuara. Tetapi suara itu harus memiliki dasar, harus memiliki data dan harus membawa solusi. Jangan hanya ramai mengkritik, tetapi tidak menawarkan jalan keluar,” ujar Usman.

Menurutnya, generasi muda harus menjadi bagian dari proses perubahan, bukan sekadar menjadi penonton.

Pejabat Jangan Bersembunyi di Balik Jabatan

Dengan pengalaman panjang bersentuhan langsung dengan masyarakat, Usman juga kerap memberikan kritik terhadap kebijakan pemerintah.

Ia mengingatkan para pejabat, khususnya kepala OPD, agar tidak menjadikan jabatan sebagai tempat untuk menghindari kritik.

“Pejabat jangan hanya merasa bertanggung jawab kepada orang yang mengangkat atau melantiknya. Ketika sudah menjadi kepala OPD, jabatan itu adalah amanah publik. Yang harus dilayani dan dipertanggungjawabkan adalah masyarakat,” tegasnya.

Menurut Usman, kritik masyarakat bukanlah ancaman bagi pemerintah. Justru kritik dapat menjadi alat kontrol agar kebijakan pemerintah semakin baik.

“Jangan bersembunyi di balik jabatan. Kalau masyarakat mengkritik, hadapi, dengarkan dan jawab dengan kerja nyata. Jabatan bukan tempat berlindung, tetapi amanah untuk melayani,” katanya.

Aktivis Lintas Generasi dan Lintas Isu

Perjalanan Usman memperlihatkan keterlibatan dalam berbagai ruang perjuangan: mulai dari lingkungan pesantren, kepemudaan, organisasi mahasiswa, kemasyarakatan, buruh migran hingga pendidikan.

Ia pernah berada dalam posisi sebagai pekerja migran, kemudian aktif dalam organisasi, menjadi pendidik dan pembina, serta terlibat dalam perjuangan kebijakan yang menyangkut masyarakat.

Kini, Usman juga dipercaya sebagai ketua dewan pertimbangan dalam sebuah organisasi nasional, sebuah posisi yang menurutnya bukan sekadar jabatan, melainkan tanggung jawab untuk terus memberikan masukan dan menjaga arah perjuangan organisasi.

Bersuara Bukan Berarti Membenci

Usman menegaskan bahwa kritik yang selama ini disampaikannya kepada pemerintah bukan bertujuan untuk mencari musuh.

“Saya tidak sedang mencari musuh dengan pemerintah. Kalau kebijakan baik, kita dukung. Kalau ada yang kurang tepat, kita ingatkan. Kritik bukan berarti membenci pemerintah. Justru kritik adalah bagian dari kepedulian terhadap masyarakat dan daerah,” ujarnya.

Baginya, keberanian bersuara yang tumbuh sejak masa sekolah hingga sekarang memiliki satu tujuan: memastikan masyarakat tidak kehilangan ruang untuk menyampaikan persoalan.

Dari seorang santri yang mulai belajar berorganisasi, membangun Anak Generasi (ANGKER 2000), kemudian menjadi pekerja migran, aktivis buruh, pendidik, pembina organisasi mahasiswa dan kepemudaan, hingga pegiat pendidikan, juga telah mendirikan berbagai oraginasi kepemudaan, kemasyaralatan berjalan hingga saat ini, perjalanan Usman menjadi gambaran bahwa pengalaman hidup dapat menjadi modal untuk terus mengabdi kepada masyarakat.

“Saya belajar bersuara sejak masih di pesantren. Saya belajar berorganisasi sejak muda. Saya pernah merasakan menjadi pekerja migran. Semua pengalaman itu yang membuat saya sampai hari ini tidak bisa diam ketika melihat masyarakat membutuhkan keadilan,” tutur Usman.

Ia menutup dengan satu prinsip yang terus dipegangnya:

“Selama masih ada masyarakat yang membutuhkan perlindungan, pendidikan yang membutuhkan perhatian dan kebijakan yang perlu diperbaiki, saya akan tetap bersuara.”

0 Comments

© Copyright 2023 - Suara Konsumen Indonesia