Selong Sabtu, 6 September 2025- Seorang remaja bernama Albipa Alaul Islam (18) asal Montong Berung, Desa Lepak Timur, Kecamatan Sakra Timur, menjadi korban pengeroyokan yang dilakukan oleh sekelompok orang di wilayah Dusun Selayar, Desa Menceh, Kecamatan Sakra Timur, Kabupaten Lombok Timur. Berdasarkan pengakuan kluarga korban, Kasus tersebut sudah di laporkan ke pihak aparat kepolisian Polsek Sakra Timur, namun terkesan di abaikan.
Peristiwa pengeroyokan tersebut terjadi pada Jumat, 22 Agustus 2025, ketika korban hendak mengambil sepeda motornya yang terparkir usai mengikuti tradisi nyongkolan. “Tiba-tiba saya dipukul dan dikeroyok lebih dari sepuluh orang,” ungkap Albipa saat ditemui awak media.
Akibat pengeroyokan itu, tubuh dan wajah korban mengalami lebam-lebam di beberapa bagian. Menurut keterangan pihak keluarga, kondisi korban sempat menimbulkan kekhawatiran karena luka yang dialaminya cukup serius meskipun tidak sampai dilarikan ke rumah sakit. “Kami khawatir karena badannya penuh memar, tapi untung tidak sampai mengancam jiwa,” ujar salah satu kerabat korban.
Tidak terima atas kejadian tersebut, korban bersama keluarga kemudian membuat laporan resmi ke Polsek Sakra Timur pada Minggu, 24 Agustus 2025. Laporan itu ditujukan agar kasus pengeroyokan bisa diproses sesuai hukum yang berlaku. Namun, keluarga mengaku kecewa karena penanganan laporan dinilai tidak menunjukkan keseriusan.
“Kami sudah lapor resmi, tapi prosesnya sangat lamban,” kata Muhammad Efendi, perwakilan keluarga korban.
Salah satu poin yang menjadi sorotan adalah ketika korban hendak melakukan visum di puskesmas setempat, pihak Polsek disebut tidak memberikan surat pengantar resmi. Padahal, surat tersebut menjadi syarat utama bagi korban untuk melakukan visum.
“Bagaimana polisi bisa serius kalau untuk visum saja tidak diberikan surat pengantar?” ucap Efendi menegaskan.
Selanjutnya, pihak kepolisian mengundang keluarga korban untuk menghadiri mediasi pada Sabtu, 30 Agustus 2025. Namun, mediasi tersebut menuai kekecewaan lantaran hanya korban dan keluarga korban yang dipanggil, sementara terduga pelaku tidak dihadirkan bersama di Polsek Sakra Timur.
Tindakan itu membuat mediasi terasa sepihak dan tidak membawa kejelasan tindak lanjut hukum.Keluarga korban pun mulai mempertanyakan keseriusan Polsek Sakra Timur dalam menindaklanjuti laporan tersebut.
“Jangan-jangan ramai kasus serupa yang tidak diproses serius oleh pihak kepolisian,” kata Efendi dengan nada kecewa. Menurutnya, penegakan hukum seharusnya berlaku adil untuk semua warga, tanpa pilih kasih.
Peristiwa ini pasti akan menjadi sorotan publik setelah di angkat melalui media dan mempertaruhkan profesionalitas aparat kepolisian dalam menangani kasus kekerasan.
Dengan pemberitaan ini masyarakat akan menilai bahwa kelambanan dalam memproses laporan justru membuka ruang bagi pelaku untuk menghindari pertanggungjawaban hukum.
“Kalau dibiarkan, kasus pengeroyokan seperti ini bisa saja terulang lagi, dan korban berikutnya bisa lebih parah,” tegas fendi.
Untuk itu, keluarga korban berharap aparat kepolisian segera mengambil langkah tegas, mulai dari melengkapi dokumen visum hingga menahan para pelaku, ia juga berharap kasus ini tidak boleh berhenti di meja mediasi semata.
“Kami hanya ingin keadilan ditegakkan, agar kejadian seperti ini tidak lagi dialami oleh orang lain,” tutup Efendi.
Menanggapi Kasus tersebut, kapolsek sakra timur IPDA I Gusti Ngurah Rai mengatakan via whatapp bahwa kasus tersebut masih dalam tahap proses penyidikan dan mengumpulkan Keterangan saksi-saksi.
Tahapan itu menurutnya untuk memperkuat dan mem per terang Kasus tersebut. Selebihnya kata dia, untuk Visum, mempersilahkan korban untuk melakukan berobat ke puskesmas.
"Silahkan berobat di PKM atau RSU nanti untuk surat pengantar Visum akan dibuatkan oleh Penyidik Polsek dan akan diserahkan ke PKM atau RSU tersebut" kata dia menyarankan.
"Kami dari Polsek tetap akan memproses kasus tersebut sampai selesai. Kalau masih ada yang perlu ditanyakan, mohon ditelpon nggih" imbuhnya.
"Kita ini MERAH PUTIH pak, tidak ada pilih kasih, apalagi membeda-bedakan dari mana. Semua masyarakat tiang. Mohon maaf dan Terima kasih dan Matur Tampi asih"tutpnya

0 Comments