Breaking News

Ditempa oleh Alam, Eko Rahadi Siap Tarung Total di Bursa Pileg DPRD Provinsi NTB 2024

LOTIM - Eko Rahadi dikenal sebagai sosok yang lantang membela kaum termarginalkan. Ketika melihat kezaliman membelit orang-orang lemah, nalurinya selalu tersentuh untuk tampil memberikan pembelaan.

Keras, cadas, dan lugas dengan teriakan lantang merupakan ciri khas seorang Eko Rahadi yang seakan melegitimasi bahwa dia adalah karakter yang tidak mengenal kompromi dengan kebatilan. Namanya bahkan kerap kali menghiasi panggung jalanan dan jagad dunia maya.

Ya, kehidupan jalanan yang menempa hidupnya sejak usia belia seakan membentuk karakter seorang Eko Rahadi secara alamiah. Eko pada masa kanak-kanak hidup di lingkungan yang penuh dengan kegetiran.

"Saya, lahir 31-12-1975, ibu bernama Rusni asli wanita Masbgik, bapak seorang buruh berasal dari Madura Bangkalan Jawa Timur, menikah di Ampenan pada tahun 1973," tutur Eko Rahadi mengawali kisahnya kepada poroslombok.com di Selong, Kamis (28/9/2023).

Pada usia 1 tahun, Eko kecil ditinggal sang bapak karna mendapat kecelakaan di tempat kerja. Sejak saat itu ia tinggal bersama kakek dan neneknya di Kampung Tangsi, Gang Pipit. Cobaan datang silih berganti, di usianya yang baru menginjak 5 tahun ia kembali ditinggal mati oleh kakek dan neneknya.

"Sejak itu saya tinggal sama saudara nenek saya sampai umur 8 tahun. Pada umur  8 tahun saya balik ke Ampenan tinggal dengan ayah sambung," kenang Eko. 

Dalam perjalanannya, Eko menempuh pendidikan di SDN 15 Ampenan sampai kelas 4, kemudian pindah ke SDN 1 Masbagik hingga tamat dan mendapatkan Ijazah pertamanya. Ia kemudian melanjutkan ke SMPN 1 Masbagik hingga menamatkan wajib belajar sembilan tahun di tempat itu.

Setelah tamat SMP, Eko kembali ke Sweta menjadi seorang anak jalanan melakoni pekerjaan sebagai buruh pikul, tukang parkir, kernet bemo kota, hingga menjadi sopir ditahun 1991 sampai 2002.

"Untuk SMA, saya mengambil ujian persamaan di Yadinu Masbagik. Setelah selesai ujian, saya sambil bawa angkot jurusan Masbagik-Sweta sambilan saya kuliah di UGR sampai tahun 2009 dan selesai dengan IPK 3,38," tutur dia lagi.

Semasa kuliah, Eko Rahadi menempa diri di organisasi ekstra luar kampus dan menjadi aktivis berbagai organisasi, dan sekarang menjadi ketua umum LSM Forum Rakyat Bersatu (FRB).

Ditengah berbagai kesibukannya, Bung Eko begitu ia karib disapa, kemudian melanjutkan pendidikan Advokat di Universitas Mataram (UNRAM), berkerjasama dengan Kongres Advokat Indonesia (KAI) sembari tetap membantu orang-orang yang terzolimi.

Kini, Eko Rahadi telah bergabung dengan salah satu Partai Politik (Parpol) besutan Hary Tanoe Soedibyo bersama tokoh karismatik NTB Dr. TGB. Zainul Majdi, MA selaku ketua harian, yakni Partai Perindo.

Eko pun membeberkan jika dirinya siap secara lahir batin untuk mengikuti kontestasi Pemilihan Legislatif (Pileg) sebagai calon anggota DPRD Provinsi NTB pada tahun 2024, mendatang.

"Insyaallah 2024 ikut dalam kontestasi pileg dari partai Perindo Dapil 3 Provinsi menjadi DPRD Provinsi mewakili 13 kecamatan. Dan siap berjuang untuk rakyat Lombok Timur di parlemen," tegas Eko.

Ia menjelaskan, pilihannya mencalonkan diri sebagai anggota dewan adalah demi mendapatkan ruang kebijakan yang lebih luas agar dapat memperjuangkan hak-hak masyarakat lemah yang menurut dia saat ini masih banyak yang tidak mendapatkan haknya secara wajar.

Jika dipercaya untuk mengemban amanah rakyat, Eko berkomitmen untuk selalu memberikan perkhidmatan terbaik dengan mewakafkan dirinya untuk membela hak-hak kaum terzolimi di parlemen nanti.

"Jika saya mendapatkan kepercayaan rakyat, saya tegaskan bahwa saya akan selalu berdiri membela hak-hak rakyat miskin dan termarginalkan," tegas Eko memungkasi.

0 Comments

© Copyright 2023 - Suara Konsumen Indonesia