Breaking News

Sea Peace Lab dan SBMI, Akan Melakukan Penelitian Perdagangan Orang di Asia Tenggara Sektor Kelapa Sawit, Perspektif Politik-Ekonomi,

Dalam rangka memahami kasus perdagangan orang di sektor pekerja migran kelapa sawit dengan perspektif politik ekonomi,  Paramadina South East Asia Peace and Diplomacy Lab (Peace Lab) dan Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) akan melakukan penelitian mulai pada tanggal 10 April 2023 mendatang, (Jum’at 7/3/2023),

Ketua SBMI NTB, Usman, S,Pd, mengatakan, Perdagangan manusia adalah masalah yang kompleks dan, dengan demikian, ada banyak tantangan untuk respons kebijakan dan program yang efektif. Dimensi dan dinamika yang mempengaruhi perdagangan manusia melintasi institusi dan struktur politik, ekonomi, sosial, budaya dan hukum. Kemampuan para pemangku kepentingan untuk melawan perdagangan manusia secara efektif dipengaruhi oleh faktor-faktor struktural tersebut, namun analisis terhadap faktor-faktor ini masih terbatas di Asia Tenggara.

Pekerja migran termasuk populasi yang paling rentan terhadap perdagangan manusia di Asia Tenggara, namun hanya sedikit yang secara resmi diidentifikasi sebagai korban perdagangan manusia. Tingkat pembangunan ekonomi dan industri yang berbeda di setiap negara dan di kawasan, “ujar Usman

Ketidaksetaraan dalam pembangunan dan keamanan manusia, penawaran dan permintaan tenaga kerja, profil dan perubahan demografi, tata kelola dan akses terhadap keadilan, adalah faktor yang memengaruhi pola migrasi tenaga kerja. Risiko perdagangan dalam pola migrasi ini dapat diakibatkan oleh berbagai faktor, mulai dari utang hingga diskriminasi, praktik rekrutmen dan ketenagakerjaan, dan pengaruh sektor atau segmen tertentu dari populasi.

Mengingat kompleksitas masalah tersebut, penelitian mendalam tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kerentanan pekerja migran terhadap perdagangan manusia dalam migrasi tenaga kerja akan membantu menginformasikan tanggapan yang lebih efektif terhadap perdagangan manusia di Asia Tenggara.

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan basis bukti untuk program dan keterlibatan kebijakan preventif perdagangan manusia dan mengembangkan dan menerapkan proses untuk memasukkan bukti tersebut ke dalam program yang dapat menyelesaikan permasalahan di Indonesia, “kata Usman,

Penelitian nantinya berfokus pada risiko perdagangan pekerja migran (baik migrasi internal dan eksternal) di sektor kelapa sawit. Jumlah orang Indonesia yang bekerja di sektor kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia sangat tinggi, seringkali tanpa kontrak formal dan dengan status yang tidak teratur. Akibatnya, pekerja-pekerja ini berisiko dieksploitasi.”jelas Usman

“Sambung Usman, Penelitian ini juga akan membantu menginformasikan implementasi yang efektif dari Konvensi ASEAN dalam Menentang Perdagangan Orang, Terutama Perempuan dan Anak (ACTIP) di antara Negara-negara Anggota ASEAN, mendukung kemitraan dan kerja sama di tingkat regional dan nasional. Penelitian ini akan memberikan landasan bagi upaya keterlibatan kebijakan di masa depan dan berkontribusi pada pekerjaan yang berhubungan dengan perlindungan manusia dalam isu perdagangan manusia.

Penelitian ini  akan dilaksanakan di 3 lokasi yaitu: di Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat, dengan melibatkan wawancara semi-terstruktur dengan berbagai pemangku kepentingan di kalangan pemerintah, sektor swasta, masyarakat sipil, dan komunitas donor internasional, serta beberapa konsultasi dengan CPMI, PMI, Pekerja Sawit di perusahaan nasional dan korban perdagangan manusia.”kata Usman dalam keteranganya,

 

0 Comments

© Copyright 2023 - Suara Konsumen Indonesia